| Bagian I – Unit produksi atau penyiapan: desain dan fasilitas SPPG |
| 1. |
Lokasi |
|
|
Unit pengolahan berlokasi di area yang bebas dari bau tak sedap, asap, debu, atau kontaminan dan berada di area yang tidak rawan banjir. |
|
|
Hasil Observasi:
|
| 2. |
Jalan dan area yang digunakan kendaraan |
|
|
Memiliki permukaan keras dengan dilengkapi sistem drainase yang memadai dan terdapat tata cara pembersihan. |
|
|
Hasil Observasi:
|
| 3. Bangunan dan fasilitas |
| 3.1 |
Memiliki konstruksi yang kokoh dan terawat serta terbuat dari bahan yang tidak mencemari pangan |
|
| 3.2 |
Tersedia ruang kerja yang memadai |
|
| 3.3 |
Desain bangunan dan fasilitas mudah dibersihkan dan dipantau kebersihannya |
|
| 3.4 |
Bangungan dan fasilitas didesain untuk mencegah masuknya hama dan kontaminan |
|
| 3.5 |
Bangunan dan fasilitas harus dirancang untuk mencegah kontaminasi silang |
|
| 3.6 |
Bangunan dan fasilitas dirancang untuk memudahkan pembersihan, pengaturan alur produksi dengan pemantauan suhu pada setiap tahapan. |
|
| 3.7 |
Area penanganan pangan (food handling): |
|
| 1. |
Lantai harus tahan air, anti-slip, tanpa celah, mudah dicuci, dan didesinfeksi. |
|
| 2. |
Dinding yang sebaiknya berwarna cerah harus tahan air, halus, tanpa celah, mudah dicuci dan didesinfeksi. Sudut dinding dengan lantai atau langit-langit sebaiknya didesain agar mudah dibersihkan. |
|
| 3. |
Langit-langit harus dirancang untuk mencegah kondensasi dan pengelupasan, penumpukan kotoran, kemudahan pembersihan. |
|
| 4. |
Jendela dan lubang udara harus dirancang mencegah penumpukan kotoran, ditutup kawat anti serangga yang mudah dilepas untuk pembersihan. |
|
| 5. |
Pintu harus halus, tahan air, menutup sendiri, dan rapat. |
|
| 6. |
Tangga, lift, dan struktur tambahan harus dirancang untuk mencegah kontaminasi pangan. Saluran harus mudah diperiksa dan dibersihkan. |
|
| 3.8 |
Semua struktur bagian atas (overhead) dan sambungan (fittings) di area penanganan pangan harus dipasang (dapat dilakukan insulasi) untuk mencegah kontaminasi langsung atau tidak langsung dari kondensasi atau tetesan. |
|
| 3.9 |
Ruang istirahat, toilet, dan area penyimpanan atau pemeliharaan hewan harus terpisah dan tidak memiliki akses langsung ke area penanganan pangan |
|
| 3.10 |
Jika diperlukan, unit pengolahan dirancang kemudahan pengendalian akses |
|
| 3.11 |
Material yang sulit dibersihkan dan didesinfeksi, seperti kayu, sebaiknya dihindari kecuali jika dipastikan tidak menyebabkan kontaminasi |
|
| 3.12 |
Pasokan air |
|
| 3.12.1 |
Pasokan air yang terlindung dari kontaminasi harus cukup, dengan tekanan yang memadai dan suhu yang sesuai. |
|
| 3.12.2 |
Terdapat sistem yang memastikan kecukupan pasokan air panas layak minum tetap mencukupi. |
|
| 3.12.3 |
Es harus dibuat dari air layak minum serta diproduksi, ditangani, dan disimpan dengan cara yang mencegah kontaminasi |
|
| 3.12.4 |
Uap yang bersentuhan langsung dengan pangan atau permukaannya harus bebas dari zat berbahaya |
|
| 3.12.5 |
Air yang tidak layak minum untuk uap, pendinginan, pemadam kebakaran, dan keperluan lain yang tidak terkait pangan harus dialirkan melalui saluran terpisah dengan penandaan warna. |
|
| 3.13 |
Sistem pembuangan limbah |
|
| 1. |
Sistem pembuangan limbah cair dan padat harus efisien serta dipelihara dan diperbaiki secara rutin. |
|
| 2. |
Selokan sebagai saluran pembuangan limbah harus tertutup dan dirancang untuk mencegah kontaminasi pada pasokan air layak minum. |
|
| 3.14 |
Pendinginan |
|
| 3.14.1 |
Unit pengolahan harus memiliki sistem pendingin dan/atau pembeku yang cukup untuk menyimpan bahan mentah pada suhu yang sesuai sesuai dengan persyaratan di 7.1.4 dan 7.1 |
|
| 3.14.2 |
Unit pengolahan harus memiliki sistem pendingin dan/atau pembeku, atau freeze tunnel yang dapat mendinginkan atau membekukan sesuai dengan persyaratan di 7.7 dan 7.8 |
|
| 3.14.3 |
Unit pengolahan harus memiliki sistem pendingin dan/atau pembeku, atau peralatan penyimpanan dingin dan beku untuk pangan olahan, sesuai dengan kapasitas produksi harian, agar memenuhi persyaratan di 7.7 dan 7.8. |
|
| 3.14.4 |
Semua ruang pendingin harus dilengkapi dengan alat pengukur suhu, dan jika memungkinkan,sebaiknya menggunakan alat perekam suhu dan alarm suhu. |
|
| 3.15 |
Ruang ganti dan toilet |
|
| 1. |
Berlokasi dekat dengan unit pengolahan dengan pembuangan limbah yang higienis. |
|
| 2. |
Memiliki pencahayaan yang baik, ventilasi, dan pengatur suhu yang memadai serta tidak langsung terbuka ke area penanganan pangan. |
|
| 3. |
Dilengkapi fasilitas cuci tangan lengkap dan higienis, serta pengingat mencuci tangan setelah menggunakan toilet. |
|
| 4. |
Keran tanpa sentuhan tangan lebih disarankan. |
|
| 3.16 |
Fasilitas cuci tangan pada area produksi |
|
| 1. |
Jika diperlukan dalam ruang proses, harus tersedia fasilitas cuci sebaiknya tanpa sentuhan tangan, disinfeksi dan pengering tangan yang memadai dan mudah diakses. |
|
| 2. |
Air hangat atau panas, air dingin, serta perlengkapan pembersih dan pengeringan tangan yang sesuai harus tersedia. |
|
| 3. |
Pipa pembuangan tertutup yang terhubung ke saluran air. |
|
| 3.17 |
Fasilitas desinfeksi |
|
|
Jika diperlukan, harus tersedia fasilitas untuk pembersihan dan desinfeksi peralatan kerja yang terbuat dari material tahan korosi, mudah dibersihkan, dan dilengkapi dengan pasokan air yang memadai. |
|
| 3.18 |
Pencahayaan |
|
| 1. |
Unit pengolahan harus memiliki pencahayaan alami atau buatan yang memadai. |
|
| 2. |
Jika diperlukan, pencahayaan harus memiliki intensitas minimal: 540 lux, 220 lux, 110 lux |
|
| 3. |
Bola lampu dan peralatan pencahayaan di atas bahan pangan harus aman dan terlindungi. |
|
| 3.19 |
Ventilasi |
|
| 1. |
Ventilasi harus memadai |
|
| 2. |
Aliran udara di area industri harus mengarah dari area bersih ke area kotor, harus dilengkapi dengan kawat kasa atau penutup dari bahan tidak korosif. |
|
| 3.20 |
Fasilitas penyimpanan untuk limbah dan bahan yang tidak bisa dimakan |
|
|
Tersedia fasilitas untuk penyimpanan limbah dan bahan yang tidak bisa dimakan sebelum dibuang dari unit pengolahan dan didesain untuk mencegah akses hama dan kontaminasi. |
|
|
Hasil Observasi:
|
| 4. Peralatan dan perkakas |
| 4.1 |
Bahan |
|
| 1. |
Terbuat dari bahan yang tidak beracun, bau atau rasa, serta kedap air, tahan korosi dan tahan terhadap pembersihan dan desinfeksi berulang. |
|
| 2. |
Permukaan halus dan bebas dari lubang dan celah. |
|
| 4.2 |
Desain, konstruksi dan instalasi saniter |
|
| 4.2.1 |
Semua peralatan dan perkakas yang mudah diakses, didesain dan dibangun untuk mencegah kontaminasi dan mempermudah pembersihan dan desinfeksi yang menyeluruh |
|
| 4.2.2 |
Wadah sekali pakai yang tertutup untuk bahan yang tidak bisa dimakan dan limbah tahan bocor, terbuat dari metal atau bahan tahan air yang sesuai dan mudah dibersihkan. |
|
| 4.3 |
Identifikasi peralatan |
|
|
Peralatan dan perkakas yang digunakan untuk bahan yang tidak bisa dimakan atau limbah diidentifikasi dan tidak digunakan untuk produk yang bisa dimakan |
|
| 4.4 |
Penyimpanan peralatan dan perkakas |
|
|
Peralatan yang mudah dipindahkan seperti sendok, pengaduk, panci dan wajan, dan lain-lain terlindungi dari kontaminasi. |
|
|
Hasil Observasi:
|
| Bagian II – Unit Pengolahan: Persyaratan Higiene |
| 5.1 |
Pemeliharaan |
|
|
Bangunan, peralatan, perkakas dan semua fasilitas fisik lain dari unit pengolahan, termasuk drainase, dipelihara terus menerus dalam kondisi yang baik. |
|
| 5.2 |
Pembersihan dan desinfeksi – pencucian |
|
| 5.2.1 |
Pembersihan disinfeksi sebaiknya memenuhi persyaratan dalam kode ini. |
|
| 5.2.2 |
Pembersihan semua peralatan dan perkakas dilakukan sesuai frekuensi yang dibutuhkan dan jika diperlukan dilakukan desinfeksi. |
|
| 1. |
Pembersihan atau desinfeksi ruangan mencakup pemantauan residu dari bahan yang mungkin kontak dengan makanan, peralatan atau perkakas dengan air pencucian (wash water), detergen atau desinfektan yang sudah diizinkan. |
|
| 2. |
Cairan pembersih sebaiknya disimpan dalam wadah berlabel non-food yang cukup jelas. |
|
| 5.2.4 |
Setelah pekerjaan selesai, lantai, termasuk drainase, struktur tambahan dan dinding pada area penanganan pangan sebaiknya dibersihkan secara menyeluruh. |
|
| 5.2.5 |
Peralatan pemeliharaan, peralatan kebersihan dan bahan kimia pembersih dijaga dan disimpan sehingga tidak menjadi sumber kontaminan |
|
| 5.2.6 |
Ruang ganti (changing facilities) dan toilet dijaga tetap bersih sepanjang waktu. |
|
| 5.2.7 |
Jalan dan halaman sekitar tempat penyajian dijaga tetap bersih |
|
| 5.3 |
Program pengendalian higiene |
|
| 1. |
Terdapat prosedur tertulis pembersihan dan desinfeksi |
|
| 2. |
Terdapat seorang yang bertanggung jawab terhadap kebersihan unit pengolahan yang memiliki pemahaman kontaminasi dan bahaya yang terkandung serta teknik kebersihan. |
|
| 5.4 |
Penyimpanan dan pembuangan limbah |
|
| 1. |
Produk samping dan limbah dikumpulkan dalam kantong tahan bocor yang tertutup sekali pakai atau wadah berlabel jelas “dipakai ulang” (reusable). |
|
| 2. |
Wadah reusable sebaiknya dibersihkan dan didesinfeksi setiap kali dibawa masuk kembali ke dapur. |
|
| 3. |
Tempat sampah sebaiknya dijaga tetap berada pada area tertutup dan terpisah dari area penanganan pangan, terlindung dari serangga dan hewan pengerat dan mudah untuk dibersihkan dan didesinfeksi. |
|
| 4. |
Karton dan pembungkus sebaiknya, segera setelah kosong, dipindahkan dengan cara yang sama dengan penanganan bahan limbah. |
|
| 5. |
Bukaan saluran pembuangan sebaiknya dibersihkan dan didesinfeksi setiap hari |
|
| 5.5 |
Penyingkiran hewan peliharaan (domestic animal) |
|
|
Hewan apapun yang dapat berbahaya bagi kesehatan sebaiknya disingkirkan dari unit pengolahan. |
|
| 5.6 |
Pengendalian hama |
|
| 5.6.1 |
Terdapat program yang efektif dan berkelanjutan untuk pengendalian hama yang diperiksa secara rutin |
|
| 1. |
Jika hama ditemukan masuk ke dalam unit pengolahan, segera dilakukan langkah pemberantasan. |
|
| 2. |
Langkah pengendalian hama termasuk treatment dengan bahan kimia, fisik atau biologi hanya dilakukan oleh personel yang memiliki pemahaman mengenai bahaya potensial bagi kesehatan termasuk residu. |
|
| 1. |
Pestisida hanya digunakan jika tindakan pencegahan lain tidak bisa dilakukan secara efektif. |
|
| 2. |
Sebelum pestisida diaplikasikan semua pangan, peralatan perlu dijaga dari kontaminasi dan dipastikan residu dihilangkan sebelum digunakan kembali |
|
| 5.7 |
Penyimpanan bahan berbahaya |
|
| 1. |
Pestisida atau bahan berbahaya diberi label yang jelas dengan peringatan tentang penggunaan dan toksisitasnya. |
|
| 2. |
Penyimpanan pada ruangan atau kabinet terkunci spesifik dan ditangani hanya oleh personel yang memiliki otoritas dan telah dilatih dengan baik. |
|
| 3. |
Wadah bekas pangan tidak digunakan untuk mengukur, mengencerkan, mengeluarkan atau menyimpan pestisida atau bahan berbahaya lain. |
|
| 5.7.2 |
Kecuali jika diperlukan untuk tujuan higienis atau proses sebaiknya tidak ada bahan yang digunakan atau disimpan pada area penanganan pangan (food handling) yang dapat mengkontaminasi pangan. |
|
| 5.8 |
Barang pribadi dan pakaian |
|
|
Barang pribadi dan pakaian sebaiknya tidak disimpan di area penanganan pangan (food handling). |
|
|
Hasil Observasi:
|
| Bagian III – Persyaratan hygiene dan kesehatan personel |
| 6.1 |
Pelatihan higiene |
|
|
Manajer unit pengolahan menjadwalkan pelatihan yang memadai dan berkelanjutan untuk setiap personil tentang penanganan pangan yang higienis dan hygiene personal |
|
| 6.2 |
Pemeriksaan kesehatan |
|
|
Personil yang akan kontak dengan pangan perlu melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum dipekerjakan dan jika terdapat indikasi klinis maupun epidemiologis |
|
| 6.3 |
Penyakit menular |
|
| 1. |
Manajemen harus memastikan bahwa tidak ada orang yang diketahui atau diduga menderita penyakit yang mungkin dapat ditularkan di area penanganan pangan |
|
| 2. |
Setiap orang yang tertular harus melaporkan kepada manajemen bahwa dirinya sedang sakit |
|
| 6.4 |
Cedera |
|
| 1. |
Setiap orang yang tersayat atau terluka tidak melanjutkan pekerjaannya dalam penanganan pangan |
|
| 2. |
Tersedianya fasilitas pertolongan pertama yang memadai |
|
| 6.5 |
Pencucian tangan |
|
| 1. |
Setiap orang yang bekerja pada area penanganan pangan sebaiknya sering mencuci tangan saat sedang bertugas |
|
| 2. |
Tersedianya peringatan untuk mencuci tangan dan dilakukan pengawasan yang memadai. |
|
| 6.6 |
Kebersihan personal |
|
| 1. |
Setiap orang yang bertugas pada area penanganan pangan harus menjaga dan memiliki kebersihan personal |
|
| 2. |
Selama bekerja mengenakan pakaian pelindung yang sesuai |
|
| 3. |
Celemek (aprons) dan perlengkapan sejenis lainnya sebaiknya tidak dicuci dan/atau dikeringkan dalam area penyiapan makanan. |
|
| 4. |
Personel tidak menggunakan perhiasan selama ketika bekerja dalam penanganan pangan. |
|
| 6.7 |
Perilaku personal |
|
|
Segala perilaku yang dapat menyebabkan kontaminasi pangan seperti makan, merokok, mengunyah atau tindakan tidak higienis seperti meludah dilarang. |
|
| 6.8 |
Sarung Tangan |
|
|
Sarung tangan sebaiknya dipelihara dalam kondisi yang baik, bersih dan saniter. |
|
| 6.9 |
Pengunjung |
|
|
Pengunjung menggunakan pakaian pelindung di area penanganan pangan |
|
| 6.10 |
Pengawasan |
|
|
Terdapat personel kompeten yang bertanggung jawab untuk memastikan semua personel mematuhi semua persyaratan |
|
|
Hasil Observasi:
|
| Bagian IV – Unit pengolahan: Persyaratan proses higienis |
| 7.1 |
Pesyaratan bahan baku |
|
| 1. |
Bahan baku tidak mengandung parasit, mikroorganisme atau racun. |
|
| 2. |
Bahan yang sudah rusak atau benda asing yang tidak dapat dihilangkan melalui penyortiran, dan/atau penyiapan, atau pemrosesan. |
|
| 7.1.2 |
Bahan baku atau ingredient diperiksa kebersihannya sebelum proses memasak dan jika diperlukan uji laboratorium dilakukan. |
|
| 1. |
Bahan baku dan ingredien disimpan pada tempat yang sesuai untuk mencegah kontaminasi. |
|
| 2. |
Stok bahan baku dan ingredien dipasok secara berkala, jumlah wajar dan teratur. |
|
| 1. |
Bahan baku yang berasal dari hewani, bila diperlukan, disimpan dalam lemari pendingin suhu 1 hingga 4 ⁰C. |
|
| 2. |
Bahan baku lain yang membutuhkan pendinginan, disimpan suhu rendah sesuai persyaratan mutu. |
|
| 7.2 |
Pencegahan kontaminasi silang |
|
| 1. |
Upaya efektif untuk mencegah kontaminasi pangan matang dan pangan matang dingin/beku. |
|
| 2. |
Bahan baku dipisahkan secara efektif dari pangan matang dan pangan matang dingin/beku. |
|
| 1. |
Orang yang menangani bahan baku atau produk semi-proses yang dapat mengkontaminasi produk akhir berbeda dengan produk akhir. |
|
| 2. |
Orang yang menangani bahan baku tidak bersinggungan dengan produk akhir manapun kecuali melepaskan pakaian pelindungnya. |
|
| 7.2.3 |
Tangan sebaiknya dicuci secara menyeluruh diantara tahap-tahap yang berbeda dalam proses penanganan produk. |
|
| 7.2.4 |
Produk mentah yang berpotensi bahaya diproses pada ruangan terpisah, atau area yang dipisahkan oleh pembatas. |
|
| 1. |
Semua peralatan yang kontak bahan mentah dibersihkan dan didisinfeksi sebelum digunakan untuk kontak dengan pangan matang. |
|
| 2. |
Ada peralatan tersendiri yang terpisah untuk menangani bahan mentah serta pangan matang (khususnya perkakas cincang/iris). |
|
| 7.3 |
Penggunaan air pada pengolahan pangan |
|
|
Buah dan sayuran mentah dicuci secara menyeluruh dengan menggunakan air layak minum sebelum ditambahkan ke dalam pangan. |
|
| 7.4 |
Pelelehan (thawing) |
|
| 7.4.1 |
Produk beku, terutama sayuran beku dapat dimasak tanpa pelelehan (thawing). Namun potongan daging besar seringkali butuh pelelehan. |
|
| 1. |
Lemari pendingin atau lemari khusus thawing yang diatur pada suhu 4 °C atau lebih rendah. Atau |
|
| 2. |
Air layak minum mengalir yang dijaga pada suhu tidak lebih dari 21 °C pada periode tidak lebih dari 4 jam. Atau |
|
| 3. |
Oven microwave komersial hanya jika pangan akan segera dipindahkan ke peralatan memasak konvensional. |
|
| 7.5 |
Proses memasak |
|
| 1. |
Lemak dan minyak sebaiknya disaring sebelum setiap kegiatan menggoreng untuk menghilangkan partikel. |
|
| 2. |
Kualitas minyak dan lemak sebaiknya diperiksa secara rutin terkait bau, rasa dan warna asap. |
|
| 3. |
Jika hasil positif, sampel dapat diperiksa lebih lanjut untuk titik asap, asam lemak bebas dan senyawa polar. |
|
| 7.5.1 |
Waktu dan suhu memasak sebaiknya cukup untuk memastikan matinya mikroorganisme patogenik bukan pembentuk spora. |
|
| 7.5.2 |
Ketika produk tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi hari yang sama, proses memasak sebaiknya diikuti dengan pendinginan secepat mungkin. |
|
| 7.6 |
Proses pembagian (portioning) |
|
| 7.6.1 |
Proses pembagian (portioning) sebaiknya diselesaikan dalam periode waktu praktis minimum yang tidak melebihi 30 menit. |
|
| 7.6.2 |
Hanya wadah yang sudah dibersihkan dan didisinfeksikan dengan baik yang sebaiknya digunakan. |
|
| 7.6.3 |
Wadah dengan tutup lebih disukai sehingga pangan terlindungi dari kontaminasi. |
|
| 1. |
Dalam sistem skala besar dimana proses pembagian tidak bisa dilakukan dalam 30 menit, pembagian dilakukan pada area suhu ambien 15 °C. |
|
| 2. |
Suhu pangan sebaiknya dipantau menggunakan termometer makanan (probes). |
|
| 3. |
Produk sebaiknya disajikan segera atau ditempatkan pada lemari pendingin pada suhu 4 °C. |
|
| 7.7 |
Proses pendinginan dan kondisi penyimpanan pangan dingin |
|
| 7.7.1 |
Segera setelah penyiapan, pendinginan sebaiknya dilakukan secepat dan seefisien mungkin. |
|
| 7.7.2 |
Suhu di pusat produk pangan sebaiknya diturunkan dari 60 °C menjadi 10 °C dalam waktu kurang dari dua jam, lalu segera disimpan di 4 °C. |
|
| 1. |
Segera setelah pendinginan selesai, produk dimasukkan ke dalam lemari pendingin. |
|
| 2. |
Suhu sebaiknya tidak melebihi +4 °C pada setiap bagian produk dan dijaga hingga penggunaan akhir. |
|
| 3. |
Pengawasan terhadap suhu penyimpanan ini perlu dilakukan secara teratur. |
|
| 7.7.4 |
Periode penyimpanan antara penyiapan pangan dingin sampai dengan konsumsi sebaiknya tidak lebih dari lima hari. |
|
| 7.8 |
Proses pembekuan dan kondisi penyimpanan pangan beku |
|
| 7.8.1 |
Segera setelah penyiapan, pembekuan sebaiknya dilakukan secepat dan seefisien mungkin. |
|
| 1. |
Pangan matang beku sebaiknya dipertahankan pada suhu -18 °C atau lebih rendah. |
|
| 2. |
Pemantauan secara teratur pada suhu penyimpanan penting dilakukan. |
|
| 7.8.3 |
Pangan matang beku dapat disimpan pada suhu 4 °C atau lebih rendah namun tidak lebih dari lima hari. |
|
| 7.9 |
Pengangkutan |
|
| 7.9.1 |
Persyaratan higienis juga diaplikasikan dalam kendaraan yang mengangkut pangan matang dingin/beku. |
|
| 7.9.2 |
Selama pengangkutan, pangan sebaiknya dilindungi dari debu dan polutan lainnya. |
|
| 7.9.3 |
Kendaraan dan/atau wadah untuk mengangkut pangan dipanaskan sebaiknya didesain untuk menjaga suhu minimum 60 °C. |
|
| 1. |
Kendaraan dan/atau kontainer yang ditujukan untuk mengangkut pangan matang dingin disesuaikan kondisinya. |
|
| 2. |
Kendaraan pengangkut didesain untuk mempertahankan suhu pangan yang telah dingin dan bukan untuk mendinginkan. |
|
| 3. |
Suhu pangan matang dingin dijaga 4 °C, diperbolehkan meningkat menjadi 7 °C untuk periode pendek. |
|
| 1. |
Kendaraan dan/atau kontainer untuk mengangkut pangan matang beku disesuaikan kondisinya. |
|
| 2. |
Suhu pangan matang beku dijaga -18 °C atau di bawahnya, diperbolehkan meningkat menjadi -12 °C untuk periode pendek. |
|
| 7.10 |
Pemanasan kembali dan penyajian |
|
| 1. |
Pemanasan kembali pangan sebaiknya dilakukan dengan cepat. |
|
| 2. |
Proses pemanasan kembali harus memadai yaitu suhu minimum 75 °C dicapai di bagian tengah pangan dalam waktu satu jam. |
|
| 3. |
Suhu yang lebih rendah boleh digunakan jika kombinasi waktu/suhu setara. |
|
| 7.10.2 |
Sebaiknya pangan yang dipanaskan kembali dapat diterima konsumen pada suhu minimum 60 °C. |
|
| 7.10.3 |
Setiap pangan yang tidak dikonsumsi sebaiknya dibuang dan tidak dipanaskan kembali. |
|
| 1. |
Dalam sistem swalayan/prasmanan, penyajian pangan sebaiknya terlindungi dari kontaminasi langsung. |
|
| 2. |
Suhu pangan sebaiknya antara di bawah 4 °C atau di atas 60 °C. |
|
| 7.11 |
Identifikasi dan sistem pengendalian mutu |
|
| 7.11.1 |
Setiap wadah pangan sebaiknya diberi label dengan tanggal produksi, jenis pangan, nama unit dan nomor lot. |
|
| 7.11.2 |
Prosedur pengendalian mutu sebaiknya dilaksanakan oleh personel teknis yang kompeten. |
|
| 1. |
Contoh uji sedikitnya 150g disimpan di wadah steril pada suhu 4 °C atau lebih rendah setidaknya tiga hari. |
|
| 2. |
Beberapa organisme tidak tahan beku sehingga pendinginan contoh uji direkomendasikan sebagai pengganti pembekuan. |
|
| 7.11.4 |
Otoritas kesehatan memerlukan rekaman dari pengolahan SPPG dan skema registrasi yang paling sesuai. |
|
|
Hasil Observasi:
|
| Bagian VIII – Unit Identifikasi Bahaya: Persyaratan HACCP |
| 8.1 |
Membentuk tim HACCP dan mengidentifikasi ruang lingkup |
|
| 8.1.1 |
Apakah SPPG telah menunjuk dan menetapkan personel untuk terlibat dalam Tim HACCP dengan kualifikasi: 1. Terdiri dari divisi/bagian yang berbeda 2. Terdiri dari multidisiplin ilmu |
|
| 8.1.2 |
Apakah SPPG telah mengidentifikasi telah menetapkan ruang lingkup? |
|
| 8.2 |
Apakah SPPG telah mendeskripsikan produk dengan tepat, yaitu: 1. Deskripsi produk telah tersedia... 2. Deskripsi produk mencakup komposisi, karakteristik... |
|
| 8.3 |
Apakah SPPG telah mengidentifikasi tujuan penggunaan dan pengguna? |
|
| 8.4 |
Apakah SPPG telah membuat diagram alir sesuai urutan tahapan produksi, bahan dan kemasan yang digunakan? |
|
| 8.5 |
Apakah SPPG telah melakukan konfirmasi diagram alir di lapangan oleh personel yang kompeten? |
|
| 8.6 |
Apakah SPPG telah membuat daftar potensi bahaya (fisika, kimia, biologi), untuk semua tahapan produksi? |
|
| 8.7 |
Apakah SPPG telah mengidentifikasi dan menetapkan CCP dengan tepat? |
|
| 8.8 |
Apakah SPPG telah mengidentifikasi batas kritis yang tervalidasi untuk setiap CCP? |
|
| 8.9 |
Apakah SPPG telah menetapkan sistem pengendalian untuk setiap CCP? |
|
| 8.10 |
Apakah SPPG telah menentukan tindakan korektif apabila terjadi penyimpangan batas kritis? |
|
| 8.11 |
Validasi rencana HACCP dan prosedur verifikasi |
|
| 8.11.1 |
Apakah SPPG telah melakukan validasi terhadap rencana HACCPnya? |
|
| 8.11.2 |
Apakah SPPG telah menetapkan prosedur verifikasi rencana HACCPnya? |
|
| 8.12 |
Apakah SPPG telah mendokumentasikan dan merekam seluruh pengendalian HACCPnya? |
|
| 8.13 |
Apakah SPPG telah memiliki program pelatihan penerapan HACCP bagi personel terkait? |
|
|
Hasil Observasi:
|